Wednesday, January 17, 2007

Suara dari Seberang yang jauh di perantauan...

Polygamy Atawa Polyginy: Perlukah?

Sunday, December 24, 2006

Susah juga jadi perempuan.Perempuan harus sempurna. Kurang sedikit saja, suami akan lari ke pelukan perempuan lainnya.

Perempuan haruslah tampil menarik. Bau wangi sembari masih harus melayani anak-anak dan suami. Sedikit jorok karena bau ompol anak sendiri, suami bisa punya alasan untuk kawin lagi.Kalau mau menjanda, perempuan haruslah cantik.

Kalau terlihat tua dan jelek, mana mungkin ada orang yang mau menjadikan isteri.

Perempuan haruslah menjaga omongan dan sikap. kalau berbeda pendapat dan suami tidak sreg akan terjadilah pertengkaran. Saat-saat begini, suami sah-sah saja untuk mencari dada perempuan lain untuk menumpahkan keluh kesahnya dengan alasan isterinya durhaka tak karuan.

Perempuan haruslah bisa punya keturunan. Ada masalah dengan sistem reproduksi tubuh sedikit saja, haruslah siap diduakan dengan alasan meneruskan keturunan.

Perempuan haruslah sehat. Kalau sakit-sakitan, sah-sah saja suami membagi cinta dengan perempuan lain yang sehat dan bugar.

Perempuan harus bisa diajak keliling keman-mana. Nyambung dengan pemikiran suaminya. kalau tidak, adalah hak suami untuk mencari orang yang setara dalam bertukar pikiran.

Ketika sudah mulai mantap kehidupan ekonominya, Perempuan juga harus rela berbagi suami dengan alasan jumlah perempuan jauh lebih banyak dari jumlah laki-laki. Satistik jaman mana yang dipakai? Berbagi suami dengan perempuan tua, banyak anak, tak menarik secara fisik dan miskin saja, memerlukan kebesaran hati. Apalagi dengan perempuan yang lebih cantik? Mana mungkin bisa tahan untuk tak terisak-isak, meski secara sembunyi-sembunti dibalik punggung suami.

Perempuan dihadapkan dua pilihan oleh suami, "elu mau gue selingkuh atau gua menikah lagi secara resmi?"

Kalau aku, akan memilih bercerai saja.Na'udzubillah min dzalik*

Tetapi anehnya, masih saja digugat. Dibilang tidak taat dan tidak sholikhat. Padahal cerai dan poligami jelas merupakan solusi terburuk. Lantas, kenapa kalau lelaki berpoligami dianggap terhormat. sedang perempuan yang mintai cerai karena suami poligami dianggap keparat, tidak sholikhat dan dilaknat bahkan dihujat?

Ah!

Seandainya para lelaki didunia bisa berpikir secara jernih. Tentulah semuanya akan berjalan Indah.

Jatuh cinta memang manusiawi. Tak hanya milik lelaki. lelaki yang sudah menikah, bisa saja jatuh cinta lagi. Demikian juga dengan perempuan. Tak ada bedanya.

Cuman, bukankah kita dianugrahi akal untuk berpikir bekali-kali. Dan agama untuk mengontrol nafsu birahi?

Ketika perempuan tampil amburadul, bukankah keamburadulannya karena mengurus rumah tangga dan anak-anak buah dari cinta?Ketika perempuan tak bisa tampil menarik, cobalah introspeksi. Apa uang belanja menipis sehingga isteri tak bisa membeli alat-alat untuk mempercantik diri? Atau tidak punya waktu karena waktunya habis buat mengurus keluarga?

Alangkah senangnya perempuan kalau suami mau bantu agar tampil sesuai dengan harapan Bukan lari ke perempuan lainnya.

Ketika isteri sakit-sakitan,pandangi wajah tirusnya. Semasa isteri sehat, betapa keringatnya habis diperas hanya untuk berbakti kepada keluarga. Matanya yang sekarang cekung itu dulu yang terjaga dan berusaha menahan sejuta kantuk yang menyerang ketika harus begadang menjaga anak-anak dan suami ketika sakit.

Alangkah senangnya kalau lelaki mau mendampingi hingga akhir hayat nanti. Bukanya lari ke ketiak perempuan sehat lainnya dengan alasan agar ada yang merawat kebutuhan suami. Terus kapankah saatnya para suami merawat isteri? Aataukah yang wajib dirawat hanya suami saja seorang?

badan sakit. percaya diri berkurang. Masihkah harus disiksa perasaannya?

Ketika isteri divonis susah punya keturunan. Kenapa tidak bersama-sama berusaha untuk mengobati diri. Mengangkat anak yatim dan memprlakukannya sebagai anak sendiri serta mendidiknya menjadi manusia yang berguna tentu akan lebih menuai pahala daripada kawin lagi. Kalau yang tak berfungsi ada pada pihak laki-laki, bukankah suami tak mau isterinya kawin lagi?

Ketika harta sudah berlimpah. keinginan untuk menambah isteripun sering menggoda. Alangkah baiknya, jika keinginan itu datang, pandangi wajah isteri yang mendampingi anda dimasa-masa susah. Bahkan kalung dan cincinya rela dijual demi sesuap nasi untuk seluruh keluarga yang tinggal di rumah kontrakan yang nyaris habis masa tinggalnya.Wajahnya selalu tersenyum walau suami hanya membawa sedikit uang.

Wajahnya sudah keriput karena dimakan usia dan kerut-kerut didahinya terus bertambah akibat Pikirannya terus diolah agar dapur bisa tetap ngebul walau dengan dana terbatas.

Telapak tangannya tak lagi lembut karena harus mencuci baju dan mengolah masakan setiap hari.

Perutnya sudah melebar penuh dengan kerut marut dimana-mana akibat mengandung anak-anak.

Ketika semuanya berlalu dan ekonomi mapan, adilkah kalau air matanya masih saja diperas dengan memperisteri perempuan lain dengan alasan sosial keagamaan?

Ketika sedang ada masalah dengan isteri, lelaki akan lari ke pelukan perempuan lain. Tetapi ketika dikejar-kejar wartawan, justru para isterilah yang membela para suaminya. Suami berlindung di ketiak isteri. Lihatlah pembelaan Sharmila di Indonesia sampai Hillary Clinton di Amerika.

Pikir-pikirlah sebelum melangkah. Sebab isteri bisa menjadi pahlawan bagi kaum suami dikemudian hari.Tegakah untuk menyakitinya?Aku tak mau membayangkan sejauh itu. Agamaku tak seburuk itu.

Aku tak menentang poligami karena ayat-ayatnya sudah jelas. Tapi bisa jadi interpretasi kita terhadap suatu ayat berbeda. lelaki sering mempergunakan interpretasinya untuk membujuk isterinya agar bisa sholikhah dimata Tuhan dengan kesediaan untuk dimadu dengan menggunakan surat Annisa ayat 3. Hukum Tuhan pasti membawa kebaikan, kata mereka tanpa ada pembahasan kontekstual sebuah ayat.

Aku, perempuan, seorang isteri dan seorang ibu, pun, bisa memberikan interpretasi agar suami hati-hati dalam urusan berbagi hati dengan berpedoman pada surah annisa ayat 1,2 ,3 dan 129. Dan ayat 129 jelas-jelas Tuhan meragukan kemampuan manusia untuk berbuat adil.

Setahuku Islam itu indah dan tak akan menyakiti hati perempuan. Dan ayat-ayat itu, kalau dijabarkan secara kontekstual adalah perlindungan terhadap janda-janda akibat perang uhud dan juga perlindungan terhadap anak-anak yatim yang saat itu marak terhadap penyerobotan harta oleh walinya sendiri. Dan ayat ayat itu juga merupakan pembatasan terhadap poligami menjadi hanya empat istri karena adanya praktek poligami tanpa batas yang ada pada waktu itu.

Jadi, konteks surah anissa ini adalah justru memberi keadilan kepada perempuan bukan untuk menyakiti.

Parahnya, para lelaki melakukan pembenaran berdasarkan ajaran Tuhan. Dan ini bisa jadi diikuti banyak orang, dengan alasan si kalau si A yang melakukan, pastilah ada hikmahnya. Kenapa tak bilang saja, "mamah, aku nikah lagi karena aku jatuh cinta lagi?"

Kalau jaman sekarang, mengawini janda cantik yang dianggap sebagai kaum yang rentan karena kesusahan ekonomi sih, menurutku tetap menyakiti isteri pertama.

Kenapa?

bukankah membantu tak harus dinikahi? Empowerment terhadap perempuan dengan mengadakan pelatihan agar bisa mandiri dan beasiswa terhadap anak-anak mereka justru akan sangat bermanfaat tanpa harus mengorbankan perasaan istri dan anak-anak sendiri.

Hukum Tuhan pasti akan membawa maslahah. Dan sesuatu yang banyak membawa keburukan ya tinggalkan.

oleh karenanya, hormati pendapatku juga. bagimu pendapatmu. bagiku pendapatku. Bukankah begitu?

Lagian, disini saya tak bicara dengan menggunakan frame agama. Saya hanya mengajak kita semua kembali berbicara dengan lebih mengutamakan hati nurani daripada cinta yang bersifat manusiawi yang dibungkus dengan berbagai alasan.

Tetapi kadang-kadang lelaki lebih sering menganggap dirinya lebih paham tentang perasaan perempuan dari perempuan itu sendiri.

Dan kepada perempuan yang "semangat" ketika didekati atau mendekati suami orang baik dalam konteks selingkuh maupun nikah resmi, sebaiknya berpikir seribu kali dan mencoba menempatkan diri sendiri kalau berada di posisi isteri pertama untuk mengukur kadar keegoisan diri.

Sedang Tuhanpun tidak mungkin egois. Mana mungkin Tuhan menginginkan para lelaki berbakti dan cinta kepadaNYA dengan mengorbankan dan menyakiti perasaan perempuan.

Mana mungkin juga para perempuan isteri kedua, ketiga, keempat menikah atas nama Tuhan dengan menyakiti perempuan lainya. Kecuali, kalau isteri pertama dan anak-anaknya benar-benar rela untuk berbagi.

Sepanjang hidupku, aku belum pernah melihat itu. Yang ada isteri ihlas menurut pandangan suami.

Beberapa media memang menggembar-gemborkan tentang keihlasan isteri pertama ini. Walau dikemudian hari sering diketahui isteri yang sempat tepar di rumah sakit begitu mendengar suaminya menikah lagi yang ternyata nikahnya tanpa dihadiri isteri pertamanya. Seorang anak yang tiba-tiba menangis sesenggukan ketika ayahnya sedang ijab kabul mempersunting isteri keduanya yang cantik jelita. Padahal jauh hari sebelumnya para suami mengatakan isteri pertama dan anak-anaknya telah "ihlas".

Tapi, isteri adalah pahlawan. beberapa hari berikutnya telah siap di hadapan wartawan, membela suaminya. Walau dengan suara serak yang tak bisa menutupi kegetiran hatinya.

Wallohu a'lam bishowab.

Mari kita bertanya kepada hati nurani kita sendiri.


petikan dari : weblog Labibah Zain - pengkarya Indonesia di Montreal
http://serambirumahkita.blogspot.com/

Aktiviti Pertama Kalendar 2007


[gambar : pemeriksaan perbarisan oleh TK semasa penutupan kursus kadar 1998 di Kem Sematan]
Sabtu, 13 Januari 2007 - saya kembali turun padang menjejaki Kem Kota Samarahan Kompeni A, Batalion Pertama.
Pagi itu, terlebih dahulu dimaklumkan Jurulatih - Lans Koperal Joseph mengenai pemeriksaan pentadbiran oleh KSMJ PW1 Teng. Semua anggota dikehendaki mengenakan pakaian no. 4A atau 4B.
Oleh kerana berat badan yang bertambah, saya dikecualikan mengenakan pakaian uniform dan terpaksa mengenakan pakaian sukan lengkap sahaja sepanjang hari itu memandangkan saya sedang berbadan dua.
Selesai minum pagi, acara Berdialog bersama KSMJ pula diteruskan. Kesempatan itu, saya menerangkan mengapa saya tidak mengenakan pakaian uniform seperti anggota lain dan mengesahkan ketidakaktifan saya dalam Latihan Bulanan selanjutnya untuk tahun 2007 sehingga saya bersalin Mei 2007 dan tamat tempoh berpantang Julai 2007. Saya terharu sebenarnya kerana terpaksa meninggalkan aktiviti Wataniah ini. Saya bakal merindui segala aktiviti dalam Wataniah dan anak-anakbuah saya serta Jurulatih2 yang baik hati. Apapun, saya tinggalkan pesan supaya anak-anakbuah memberi kerjasama menyeluruh kepada para pegawai lain yang masih aktif termasuk Kapten Belayong ak Pok yang memangku OC- Mej Lawrance @ Belaja yang sedang sakit.
Nampaknya dengan kehadiran ketua jurulatih baru Sarjan Norijoh dari Renjer akan menyengatkan lagi aktiviti Wataniah Kompeni A. Semacam ada suntikan semangat bara yang dijanjikan oleh PW1 Teng dan Sjn Norijoh sewaktu sesi dialog dan taklimat yang diberikan.
Petang itu, saya pulang tepat jam 5.00 petang. Begitu terasa keletihan seharian setelah lama tidak berakitiviti meskipun suami menjadi pemandu hari itu. Apa tidaknya, sebelum ini saya sekurang2nya tidur walau 15 minit setiap tengahari tetapi tidak untuk hari itu - tiada ruang langsung untuk saya berbuat demikian.
Apa pun, saya berbangga kerana dapat juga hadir latihan dalam keadaan sebegitu sekurang-kurangnya rasa prihatin menjenguk anak2 buah terjetus di hati saya biarpun memakan masa yang singkat.
Bravo Wataniah. Bravo Kompeni Alpha, Batalion Pertama Rej 511 AW.
Armiza Nila
17012007

Thursday, January 11, 2007

Masjid Jamek Petra Jaya dan Kelas Tusyien


gambar bukan masjid jamek sebenar [hiasan semata-mata]
Isnin - 8 Januari 2006, dalam perjalanan pulang dari pejabat, kakak Hatiah menelefon saya - mohon bantuan suami pergi menghantar anak2nya hari pertama menghadiri Tusyien di Masjid Jamek Petra Jaya, Kuching.
Walaupun letih, saya menemani suami selesai solat Maghrib pertama kali melangkah kaki ke Masjid Jamek. Saya sendiri berjumpa guru[ustaz] bertugas menghantar Aidil Yushairi [Tahun Tiga] dan Mohd Qois [Tahun Dua] masuk ke dalam Masjid.
Begitu tenang sekali wajah Masjid yang besar dan luas ini, detik hati saya. Aidil dan Qois pun duduk di kelas masing-masing. Sayu hati saya meninggalkan mereka berdua - anak2 yang masih kecil dan mentah ini.
Saya pun keluar ke perkarangan Masjid ditemani 'Irfan dan suami sambil2 berjalan-jalan di kaki limanya yang maha luas. Sekali lagi saya menerima panggilan telefon daripada Kak Tie. Memandangkan saya memang cukup letih saya setuju saja bila kakak memberitahu suaminya sendiri yang akan mengambil balik anak2nya dari Tusyien yang tamat jam 9.15 malam.
Saya pun bergegas sekali lagi masuk ke dalam masjid memberitahu berita ini kepada anak2buah saya. Seketika itu, kedengaran azan 'Isya' berkumandang dengan merdu. Kelas tusyien dihentikan. Para guru tusyien mengarahkan anak2 didik mereka berwudhu untuk sama-sama bersolat 'Isya'. Sekali lagi saya terkedu. Begitu rupanya cara tusyien di Masjid Jamek ini. Sambil tusyien anak-anak didedahkan dengan Al-Quran dan Solat. Sedari kecil lagi anak2 dididik dan satu-satu sudut ada juga ibubapa yang menemani anak mereka tusyien sambil memandang dari jauh anak2 mereka menerima pelajaran daripada guru.
Saya kembali menuju parking sambil menyatakan hasrat kepada suami untuk menghantar 'Irfan dan Adib tusyien di Masjid Jamek ini bila cukup umur tujuh tahun.
Sejak mengandung hampir 6 bulan ini, kekuatan saya agak berkurangan. Stamina emosi dan fikiran sedikit terjejas lalu menamatkan kelas tusyien saya sebelum ini. Biarlah - saya lebih mementingkan kesihatan daripada wang. InsyaAllah, rezeki saya akan datang juga mungkin dalam bentuk lain. Pun dalam pada itu ada juga jiran2 yang menyatakan hasrat menghantar anak2 mengaji Al-Quran dengan saya namun saya tetap menolaknya dengan baik memandangkan masih dalam tempoh kehamilan.
Begitulah--- pihak Masjid dapat mempergunakan Rumah Allah ini bukan sahaja untuk beribadat tetapi juga untuk meneruskan pengajian ilmu kepada anak-anak Muslim biar dari umur setahun jagung lagi - benarlah - 'melentur buluh biar dari rebungnya'...
Armiza Nila

Teruskan Menulis




Naluri hati saya telah pun saya luahkan. T'lah mendapat reaksi daripada DBPCS. Saya terima seadanya. Komen dari rakan2 pun membuka minda dan hati saya. Apa yang penting, saya terus menulis. Waima tulisan saya itu taklah sehebat mana. Suatu hari, pasti ada perkembangannya bak mawar kalas yang kembang mewangi di dingin pagi.
Bukan itu saja, saya harus menelaah karya-karya penulis mantan dan berjaya. Saya tidak bermaksud untuk bertelagah dengan sesiapa. Saya hanya menyarankan apa yang saya rasa patut diperbetulkan dan diambil perhatian oleh pihak berwajib dan pasti tidak lebih dari itu. Kerana selama ini saya percaya tanpa menghadiri apa-apa aktiviti sastera pun, seorang yang benar-benar ingin menjadi penulis tetap akan berjaya mencapai niatnya dengan rajin menelaah kerana sekarang tidak kurang gudang mencari ilmu dan maklumat - dari buku, internet mahupun media massa - pilih saja dengan bijaksana dan menepati masa seiring usia yang semakin pendek ini, sudah pasti penulis akan mendapat habuannya.
Saya tidak meletakkan apa-apa kesalahan atau ketidakpuasan hati kepada mana-mana pihak cuma ingin mengingatkan diri bahawa betapa pendeknya usia kita ini untuk mencipta jati diri, untuk menjadi manusia pemberi, insan yang bererti...
Armiza Nila
Petra Jaya

Tuesday, January 09, 2007

Mimpi

Tadi malam, saya bermimpi. Mimpi yang cukup memilukan hati kecil saya. Berikutan dengan latihan bulanan askar wataniah yang semakin menjelang pada 11,12 dan 13 Januari 2007 ini, saya bermimpikan rakan seperjuangan yang telah pergi menemui-Nya.

Saya bermimpi Kopral Salmah masih hidup sambil duduk bersembang bersama kami dan sahabat baik saya Dayang Paon. Saya macam tidak percaya bahawa beliau masih hidup bila diterangkan oleh rakan-rakan. Wajahnya tepat merenungi saya sambil berbual rancak seperti selalu.

Tiba-tiba saya tersedar. Oh....firasat saya...arwah minta didoakan [sedekah] untuk bekalan di alam barzakh. Saya terkesan dalam diari hidup saya banyak kali saya bermimpikan arwah2 keluarga mahupun sahabat rapat dan terdekat saya sejak2 kebelakangan ini. Yang mampu saya lakukan hanyalah berdoa dan bersedekah untuk mereka. Semoga ruh-ruh mereka bersemadi dengan aman di alam sana. Dan ini merupakan pengajaran buat kita yang masih hidup!

Al-Fatihah....
untuk Allahyarhamah Kpl Salmah Yahya...
Amin...

Armiza Nila

Monday, January 08, 2007

Kenduri Kahwin Zulfidzi Poni & Dayang Norita Awang Sadam

[gambar perkahwinan masih dalam proses pencucian - maaf kerana belum dapat disiarkan]

Ahad, 7 Januari 2007 - hari bersejarah bagi keluarga kakak nombor dua Madiah Mahbu kerana telah berlangsungnya majlis perkahwinan anak keduanya [Zulfidzi] yang pertama kali diadakan dalam keluarga mereka kerana anak perempuan sulungnya masih lagi menunggu lamaran teruna...

Majlis yang dihadiri lebih kurang 1000 orang jemputan cukup meriah di Kg Sinar Budi Baru, Desa Wira. Kakak tidak perlu menyediakan semua/banyak persiapan kerana urusan masak-memasak diambil alih keluarga kami yang diketuai ayah [Mahbu Ambi], abang-abang, ipar duai, anak2buah dan saudara-mara kerana alasannya di tapak rumah kakak di Sinar Budi tiada lagi ruang memasak untuk kenduri kerana tanahnya telah kesemuanya 'dilantaisimenkan'.

Atas muafakat adik-beradik seramai 12 orang, kami sekeluarga telah menyumbangkan bukan saja wang malah tenaga bagi menjayakan majlis perkahwinan pertama dalam keluarga kakak Madiah. Ini kerana kak Madiah telah terlalu banyak menabur budi terhadap kami adik-beradik dan anak-beranak dari segi sumber kewangan tanpa mengenal jumlah mahupun lelah. Sudah menjadi adat dan tradisi keluarga kami, "berat sama dijunjung ringan sama dijinjing".

Alhamdulillah, sedari pagi Sabtu lagi, kami sekeluarga perempuan lelaki tua muda berkumpul di rumah kak Long untuk menyediakan bahan masakan. Mengupas, menghiris, memotong, memblender ramuan kering sehingga basah, melapah daging dan ayam. Memotong nenas dan sayuran sehinggalah Maghrib. Sebelum Maghrib kami makan-makan bersama [ikan fresh yang baru dipukat Abang Pit masak asam pedas dan goreng kering], sup kaki ayam, sayur labu dan ulam timun dan cencaluk].

Para lelaki meneruskan tugasan persediaan masak dari Maghrib hinggalah jam 3.30 pagi pada keesokan harinya. Anak-anak Kak Long, Abg Pit dan Abg Bet kebanyakannya lelaki tinggal di Semariang untuk tugas memasak manakala yang perempuan termasuk saya, adik dan anak-anak dan ibu berkunjung ke Sinar Budi setelah selesai solat Maghrib kerana di sana menanti untuk menyaksikan "Berlulut" pihak perempuan yang mengadakan Majlis Kahwin secara "Berjemuk"[perkahwinan diadakan sekali di rumah pengantin lelaki].

Bukan sahaja hidangan makanan secara buffet yang kak Madiah sediakan, acara "Berlulut" diselangi dengan paluan kompang dan gong juga nyanyian karaoke yang begitu membingitkan telinga. Nampak berseri wajah pengantin perempuan 'berlulut' dengan menukar tiga jenis pakaian iaitu sari India, cheongsam Cina dan kebaya Melayu.

Anak saya 'Irfan dan Adib sambil menutup cuping telinga kerana paluan kompang dan gong yang begitu nyaring ditambah lagi dengan 3 buah mikrofon betul-betul duduk di sebelah kami. Anak2 saya terkesima menontonnya sambil terkinja-kinja juga turut menari mengikut irama kompang dan nyanyian karaoke. Kami pulang jam 10.30 malam.

Keesokan paginya jam 9.30 pagi, saya memohon bantuan adik Siti Josika memandu Kancil kerana saya tidak larat lagi setelah menolong di rumah kak Long petang semalam ditambah dengan 'buyuh' kaki saya dan karenah anak-anak. Kancil saya berhimpit dengan penumpang [kak Ayang -jiran kami, pembantu rumah saya dan adik serta anak-anak saya dan anak adik]. Ketiadaan suami memang sedikit menyukarkan perjalanan saya dan anak-anak.

Majlis persandingan berjalan lancar disusuli dengan Majlis Berzikir terdiri daripada wanita dan lelaki. Zulfidzi macam kekok saja berdepan kamera buat kali pertama. Tetamu semakin ramai berkunjung dan setiap yang baru hadir terus dipersilakan makan. Setelah puas makan dan minum, kami kembali ke Semariang hampir jam 1200 tengahari...

Armiza Nila
[sekitar pengalaman di dua tempat majlis Semariang Batu dan Sinar Budi Baru]
6 dan 7 Januari 2007

Friday, January 05, 2007

Hujan akhirnya cerah

Beberapa hari di Kuching hujan turun tak henti-hentinya. Pakaian saya dan anak-anak sembab dan terpaksa disterika untuk mengeringkannya. Memandu di jalanraya yang basah dan licin, saya cukup berhati-hati. Lambat-lambat asal selamat. Keadaan mendung yang hampir gelap menyukarkan pandangan mata saya yang sememangnya rabun biarpun dibantu kacamata dan lampu kereta. Dalam berat saya sampai juga ke rumah.

Alhamdulillah, petang ini hujan beransur reda. Matari tanpa segan silu menyilau sinarnya. Memberi harapan baru kepada semua orang.

Saya bersyukur kerana hujung minggu anaksaudara lelaki [Zulfidzi] akan melangsungkan majlis perkahwinannya di Kpg Sinar Budi. Segala urusan masak-memasak diserahkan kepada keluarga kami [ayah dan abang2 serta ipar duai] di Kpg Semariang Batu.

Dengan teduhnya hujan dan cerahnya matari, insyaAllah kerja-kerja memasak akan berjalan dengan lancar dan majlis pun akan turut bahagia.

Armiza Nila

Thursday, January 04, 2007

Kutipan dari Sastera Utusan Malaysia 4 Januari 2007

Rasanya bermanfaat kepada penulis muda yang mungkin tidak berkesempatan melayari Utusan Malaysia 4 Januari 2007. Moga jadi pedoman buat kita semua....

Sastera
Penulis muda hadapi cabaran lahirkan karya bermutu

Oleh: AZMAN ISMAIL

MENCARI ruang dan isu-isu baru untuk mempertahankan khalayak sastera tempatan dan memberi ruang kepada sastera Melayu menjadi cabaran terbesar kepada penulis-penulis muda tanah air sepanjang 2007.

Ini kerana tidak banyak peristiwa besar yang berlaku di negara ini yang boleh diketengahkan sebagai tema penulisan dalam semua genre kreatif.

Keadaan tersebut bagi sesetengah pihak dikatakan sebagai faktor utama yang menyebabkan penulis-penulis tempatan terutama generasi muda menggunakan ‘apa yang ada’ bagi melahirkan karya hingga tidak ada anjakan yang bermakna dalam sastera Malaysia.
Ketika dunia menghadapi kerencaman isu yang ditimbulkan oleh konflik bersenjata, politik, pertembungan ideologi atau krisis kemanusiaan, penulis-penulis di negara ini berada dalam zon selesa berbanding dengan teman-teman mereka di Iraq, Afghanistan atau di beberapa negara Afrika.

Bagi penulis Tuan Nurizan Raja Yunus (Ana Balqis), ketiadaan isu besar yang boleh diketengahkan menjadi cabaran terbesar kepada penulis muda tempatan.
Menurut beliau, tugas yang harus dipikul oleh penulis-penulis muda di Malaysia sepanjang tahun ini dan seterusnya ialah memanfaatkan pelbagai isu yang ada untuk membina dan mengukuhkan khalayak sastera tempatan.

“Melalui karya-karya sastera, saya dan rakan-rakan penulis lain perlu mengajak khalayak sastera bergerak ke hadapan. Keupayaan kreatif dan kepekaan terhadap pelbagai isu sangat penting supaya tema kecil di sekitar masyarakat kita boleh dikembangkan menjadi karya besar dalam semua genre sastera.

“Mungkin kita tidak ‘beruntung’ berbanding dengan rakan-rakan lain yang berada di tengah-tengah kerencaman konflik atau krisis yang terus langsung boleh menggarap ke dalam karya kreatif mereka tetapi tidak bermakna kita tidak boleh melahirkan karya besar,” katanya.
Ana Balqis berkata, aspek sejarah misalnya boleh digarapkan dengan berkesan ke dalam karya-karya sastera untuk mengukuhkan tamadun bangsa, sekaligus menjadi alat untuk membina negara bangsa.

Katanya, beberapa penulis tersohor dunia seperti Pablo Neruda, Gabriel Garcia Marquez, Naquib Mahfouz atau Rabindranath Tagore juga menghasilkan karya besar dari satu suasana yang tidak ada sebarang isu besar.

Namun, penulis-penulis tersohor berhasil melahirkan karya-karya besar yang mampu meletakkan diri mereka sebagai peraih Anugerah Nobel Kesusasteraan dan diiktiraf di seluruh dunia.

“Ketiadaan isu besar tidak boleh dijadikan alasan penulis-penulis kita gagal melahirkan karya-karya besar. Yang penting, kemampuan kreatif untuk mengolah idea dengan persoalan yang ada di sekitar kita. Ia sudah cukup untuk melahirkan karya terbaik,” tambahnya.
Bagaimanapun, beliau melihat proses birokrasi dalam penerbitan yang diamalkan oleh sesetengah syarikat mungkin boleh menjadi penghalang kepada karya-karya sastera tempatan.
Katanya, sikap yang mengutamakan penerbitan karya-karya picisan yang lebih memberi pulangan komersial turut memberi impak besar kepada ruang dan peluang untuk penulis berkarya.

Seorang lagi penulis muda, S.M Zakir berpendapat, cabaran terbesar kepada dunia penulisan tempatan ialah semakin mengecilnya khalayak sastera akibat penggunaan bahasa Inggeris dan kemasukan karya-karya asing secara meluas di negara ini.

Katanya, tidak mungkin karya-karya berbahasa Melayu terus hidup seandainya tidak ada sokongan yang kuat daripada pelbagai pihak selain `kesediaan’ khalayak untuk mengutamakan bahasa itu sebagai bahasa komunikasi dan ilmu.

S.M Zakir berkata, masyarakat juga mula beralih kepada isu-isu yang lebih bersifat global dan persoalan-persoalan yang boleh memberi pulangan kepada mereka seperti ekonomi dan kewangan hingga ruang untuk sastera Melayu semakin mengecil.

“Sebenarnya cabaran sastera Melayu pada tahun 2007 mungkin akan lebih sengit. Masyarakat tidak lagi melihat sastera sebagai alat untuk mewujudkan pembinaan insaniah secara psikologi dan keilmuan.

“Sebaliknya, mereka cenderung melihat persoalan politik, ekonomi dan beberapa isu yang mempunyai nilai tarikan masyarakat jauh lebih penting. Inilah cabaran terbesar sastera Malaysia hari ini dan seterusnya,” ujar beliau.

Bagaimanapun, beliau berkata, itu tidak bermakna penulis-penulis muda mahupun mapan di negara ini terpaksa akur dengan keadaan, sebaliknya mereka mesti memperjuangkan fungsi sebenar sesebuah karya sastera.

Baginya, kekuatan sesebuah karya sastera terletak di tangan seseorang penulis dan penggarapnya. Kepekaan dan daya kreatif akan menjadikan sesebuah karya tersebut besar dan mampu memikul peranannya dengan baik.

Beliau yang juga Setiausaha Agung Persatuan Penulis Nasional (Pena) berkata, selain perlunya seseorang penulis mempersiapkan dengan ilmu bantu, mereka juga mesti sentiasa sensitif terhadap isu-isu baru di sekitar masyarakat untuk diangkat sebagai tema penulisan.
Sementara itu penulis dan pensyarah sastera, Dr. Mawar Shafie berkata, khalayak sastera di negara ini yang semakin mengecil mungkin boleh diatasi melalui pendekatan-pendekatan tertentu kerajaan.

Antara lain beliau berkata, Program Rakan Muda di bawah Kementerian Belia dan Sukan (KBS) boleh dijadikan platform untuk memperkembangkan khalayak sastera terutama di kalangan generasi muda.

“Selain adanya program-program pendidikan moral, kemahiran dan integrasi, sastera juga boleh diterapkan sebagai alat pembinaan jati diri di samping untuk memperluaskan khalayak sastera Melayu.

“Oleh kerana proses pengisian sastera semakin rencam di samping cabarannnya yang semakin berbagai-bagai, pendekatan untuk memastikan sastera Melayu terus mendapat tempat dalam masyarakat perlu juga diperluaskan,”
katanya.

Nasib kejujuran





ia jarang dipandang tinggi
kejujurannya dicicirkan dari mata fikirbudi
betapa ikhlas hatinya
mengendong kebenaran ke mana saja
niat putih bersama sinar suci akalnya

pun disanggah lakunya
tanpa sedikitpun ditutup
waima dengan kain paling tipis di dunia

jujur ia tiada tara
mengatasi kebobrokan penipuan
yang diaktifkan setemannya

namun kejujuran itu
memusnahkan pencapaian
sehingga tercabar keimanan
berebut para syaitan mengambil bahagian
mencuba menghasut pembohongan

"LaILahaIllalLallah
MuhammadarRasulullah"

begitulah nasib kejujuran
yang menemukan kemenangan
pada akhir perjalanan...

Armiza Nila
POLIKU
p/s... puisi ini telah mendapat kritikan membina yang amat ikhlas dari seorang teman penulis yang jauh nun di perantauan [Roslan Jomel]. Lantaran saya amat menghargainya, saya sisipkan di sini kata-kata beliau yang amat memotivasikan diri saya untk lebih berhati-hati semasa menulis puisi. Ternyata penulis ini tidak mengira sesiapa (tidak memilih kawan) utnuk menyatakan keikhlasannya bagi membentuk sesama penulis menjadi yang terbaik. Terima kasih sdra Roslan Jomel...
Salam Kepada Sdr Armiza,
Suka untuk saya berterus terang sahaja memandangkan kita sudah pun bersaudara dalam laman SS ini. Saya tidak berpuas hati kepada puisi ini. Saya hanya terpikat pada baris pertamanya sahaja. Saya tahu sdrArmiza tidak keberatan untuk memperbaikinya kerana di dalam diri sdrArmiza sudah ada kilauan pemikiran. Saya paling benci kepada pujiankerana ia sekadar retorika pemanis, maka itu, saya yakin bahawa puisi ini akan kelihatan lebih berkesan sekiranya direnung dengan lebihmendalam akan pemilihan diksi2nya untuk menyampaikan maksud besar sdrArmiza iaitu tentang kejujuran. Ini tema yang besar dan walaupun sudah klise tetapi penyair yang bijak cara persembahannya, tema yang dianggap "ortodoks" sebegini akan berjaya menusuk jauh ke dalam dada pembacanya.
Saya juga yakin sdr Armiza memiliki koleksi2 buku puisi tulisan penyair2 terbaik negara mahu pun luar negara di rak bilik bacaan. Dan dari pengaruh pembacaan dan penganilisisan kerja puisi2 dari koleksi2 buku puisi tersebut, saya dan juga sdr Armiza akan dapat menjadikannya sebagai penerang ilmu atau perbandingan kepada proses pengkaryaan. Tiada niat pun untuk mengajar kerana saya dan sdr Armiza perlukan seseorang untuk mengajar kita sebagai penulis muda. Tetapi, bagaimana seandainya tiada seseorang pun sudi mengajar kita? Saya juga menunggu, karya sdr Armiza harus segera diterbit ke majalah DewanSastera. Tiada bezanya sdr di antara penulis2 wanita lainnya diSemenanjung. Itu hanyalah jarak geografi.
Salam puisi.

Suara hati




Suka saya mengutip dari laman s_s tentang suara hati - pengharapan tinggi saudara penulis kita Roslan Jomel mengenai kerabat API.

Tindakan ini bukanlah berupa membangga-banggakan diri cuma jadi motivasi untuk terus berkembang...

Saya sungguh senang sekali menjadi pendengar kepada kelainan pendapatdan buah fikiran daripada sesiapa sahaja yang arif di dalam dunia penulisan. Beg besar akan saya bawa untuk dipenuhkan oleh kebijaksanaan sdr2 penulis kita. Sarawak memiliki sdr Yusuf yang luas pembacaan dan geografi sasteranya yang telah merenjis bakat uniknya kepada pembaca, sdr Armiza yang bakal berdiri tinggi membawa berus pena lembut ke halaman kertas dengan lukisan pengalaman yang lebih matang. Kita berharap kepada sdr Armiza akan menyumbangkan bahasa puitis untuk memperincikan seribu persoalan dari kaca mata wanitanya dan kita juga memiliki sdr Zakaria Manan yang menyerongkan norma konvensi sastera negeri melalui puisi2nya - Roslan Jomel

Wednesday, January 03, 2007

Selamat Ulang Tahun Pertama


4 Januari 2007 - hari ini maka genaplah satu tahun usia penghasilan/kelahiran blog saya "Basah Dalam Setitik Nila" dalam dunia maya tanpa sempadan ini.

Saya melafazkan kesyukuran yang tidak terhingga kerana akhirnya usia setahun telah mematangkan penulisan saya dalam gaya blog ini.

Walaupun saya bermula dengan kepayahan dan kecelaruan, sedikit-sedikit saya bisa mengorak langkah nyaman sehingga boleh berinteraksi dengan para blogger lain yang banyak memberi komen membina terhadap pengkaryaan blog saya.

Tahun baru 2007 diharap memberi sinar yang lebih cerah dan ceria dalam penghasilan karya saya baik di dunia maya mahupun di alam nyata. Ternyata gugahan-gugahan yang mendatangi diari hidup saya menjadi semangat bahang dalam memperkembangkan pemikiran untuk membentuk kendirian yang sebenar.

-Ulangtahun Pertama Blog Basah Dalam Setitik Nila "Armiza Nila"-
(4 Januari 2007)

Friday, December 29, 2006

Hari ini dan hujung tahun 2006

Sehingga ke hari ini, saya tidak memiliki baki cuti rehat lagi bagi tahun 2006. Hari ini adalah hari terakhir saya ke pejabat untuk tahun 2006. Hujan lebat sejak petang semalam sejurus saya balik lewat dari pejabat [jam 5.30 petang] sehinggalah ke pagi ini jam 8.00 pagi tadi hujan turun dengan lebatnya.

Mengenangkan suami yang masih letih selepas perjalanan dari Sematan petang semalam, saya gagahi jua kaki sendiri untuk memandu ke pejabat dalam keadaan hujan lebat. Kesian suami, nampak keletihannya bila saya kejutkan pagi tadi bersalam sebelum saya ke pejabat. Selalunya saya bermanja dengan suami untuk menghantar ke pejabat tapi tidak hari ini.

Saya menghabiskan hari-hari terakhir di pejabat untuk tahun 2006. Tugas-tugas rasmi saya sudah 100% selesai bila tiba akhir tahun seperti ini. Dan pengalaman ini tidak pernah pun saya alami sejak 9 tahun yang lalu. Mungkin Allah memberi peluang kepada saya merasai kesenangan sedikit seperti ini dengan tidak terlalu dibebankan dengan tugas yang biasanya melambak di atas meja dan menghentak kepala. Pun saya tidak senang duduk dan menghadap PC semata. Saya gunakan masa yang ada untuk menelaah tentang pekerjaan di bidang akaun pula yang saya akui amat payah untuk saya kunyah, telan dan masukkan dalam minda saya. Apapun, saya tetap juga berusaha untuk menikmatinya.

Tahun 2006 banyak meninggalkan kenangan manis, pahit dan kesan yang mendalam dalam batang tubuh saya. Tahun ini saya berpindah dan hidup di rumah sendiri buat pertama kalinya, tahun ini juga saya bersama suami dan anak-anak pertama kali menjejak kasih ibu kandung suami [berpergian jauh sehingga ke Lawas].

Tahun ini juga saya berjaya dalam bidang sastera yang ceburi sejak 9 tahun yang lalu. Tahun ini juga tahun menguji kesabaran dan keimanan saya dalam bidang kerjaya yang maha mencabar! Tahun ini juga saya bersedih kerana kehilangan ramai kawan yang dulunya berpura-pura baik terhadap saya. Tahun ini saya sudah mengerti benar antara kawan, sahabat mahupun teman yang boleh dijadikan rakan setia.

Segalanya berlaku dalam tahun 2006. Begitu banyak kejayaan dan kegetiran yang telah saya tempuhi dalam tahun ini dengan penuh kesyukuran dan kesabaran.

Tahun baru 2007 yang bakal menjelma saya berharap sinarnya bertambah cerah dan ceria. Rezeki saya, suami dan anak-anak akan bertambah dari masa ke semasa berkat usaha yang tak mengenal kalah. Segala masalah kewangan dapat diatasi sebaik mungkin dengan penuh kesabaran dan bijaksana kerana tahun 2007 saya akan menambah satu lagi saham berbentuk ANAK. InsyaAllah, Yang Maha Kaya akan melimpahkan Kepemurahan-Nya dalam kebahagiaan dan keberkatan keluarga saya.

Begitulah berakhirnya tahun 2006. Hanya tinggal 2 hari lagi peristiwa yang akan menjadi lipatan sejarah dalam usia 31 tahun saya.

Armiza Nila
Desa Serapi
29 Disember 2006

Thursday, December 28, 2006

PUISI - SEKUJUR KECIL SEBESAR JIWA

SEKUJUR KECIL SEBESAR JIWA

biar sekujur kecil
asal sebesar jiwa
kerdil dipandang
gagah dirasa
pantas dikendong
ke mana-mana.

Armiza Nila
150705
POLIKU

TP&S Pt 1 - OLEH PENAGUNUNG

Tiga buah puisi daripada tiga orang penyair muda menggamit perhatian saya . Secara umumnya, membaca puisi-puisi itu membuka peluang untuk lebih mengenali hati-budi barisan penyair muda itu. Ini adalah satu peluang keemasan yang tidak harus dilepaskan. Saya pun menelaahnya.

Puisi pertama daripada Armiza Nila berjudul ‘Sekujur Kecil SebesarJiwa’ agak memberangsangkan. Begitu terasa kelancaran pengucapannya,pertautan yang baik antara baitnya, di samping gaya bahasa yang biasa; ‘biar sekujur kecil / asal sebesar jiwa / kerdil dipandang /gagah dirasa / pantas dikendong / ke mana-mana.’ Armiza tidak banyakberpaut pada unsur-unsur sastera [ personifikasi, metafora, hiperbola dan lain-lain ] tetapi menyandarkan kepada kekuatan diksi yang denotatif sifatnya. Armiza jelas memberikan penekanan kepada penyampaian wacana pilihannya.

Pendekatan serupa juga diambil oleh Sajali Mohamad dengan puisinya ‘Senja-Senja Begini’ . Puisi yang menampilkan kesedaran penyair tentang usia bahari dirinya itu benar-benar menyentuh perasaan pembaca. Sajali amat berhati-hari dengan diksinya,pengulangan kalimat ‘senja-senja begini’ memberikan penekanan berkesan akan dilema usia tua yang dihadapinya ; senja-senja begini /banyak yang mesti ditinggalkan/ bersama pertaruhan lupa / senja-senjabegini / tiada sedar menghitung hari / hari yang sudah / senja-senjabegini / banyak sudah yang terhakis / dalam diri / senja-senja begini / noktah adalah tetamu / yang dinanti.

Namun sedikit perbezaan pada puisi Kelana Akira. Meski pun penyampaiannya masih di dalam lingkungan gaya denotatif itu, Kelana cuba memanfaatkan beberapa unsur sastera seperti personifikasi[ ‘syahdu alam’, ‘tirai asyik’ ], di samping istilah sufisme yang mencerminkan latar belakang puisi ini. Tanpa pengetahuan lebih mendalam akan istilah ini, kita tidak mungkin akan dapat menangkap makna tersurat puisi ini. Antaranya ialah ‘isyaratmu’ [ tanda kebesaran Allah swt ] , ‘ wahid namamu ‘ [ wahid ialah sifat Allah swt bermaksud satu ] dan ‘ baital atiq [ nama lain bagi Kaabah ].

Meskipun percubaan sufisme Kelana ini tampak jelas, namun saya tidak akan mudah untuk mengkategorikannya sebagai puisi sufi. Ini hanyalah kesedaran beragama penyairnya sahaja.

jika telah aku turut akan katamu / maka aku dapat akan kerjamu
ingat-ingat kan isyaratmu / sampai wahid namamu

kutaruh akan tirai asyiknya / syahdu alam bidainya tiada jauh
di bahr al dhunub aku putuskan / tali sauh ripainya

di baital atiq / wasilah akan isinya berlabuh

Armiza Nila
p/s...sengaja saya perturunkan di sini puisi kerdil saya yang telah diberi kritikan membina oleh saudara Penagunung di samping puisi Sajali Mohamad dan Kelana Akira.

Saya begitu menghargai kerja keras saudara Penagunung kerana rupa2nya masih ada insan yang sudi untuk mengunyah dan menelaah puisi saya si insan kerdil ini.

Saya berharap selepas ini akan ada lagi kritikan2 seumpama ini untuk memperkembangkan lagi hasil pengkaryaan saya.

Tergoda oleh Astro




Akhirnya hari ini saya tergoda juga oleh promosi melanggan Astro khas untuk staf Kementerian Pelajaran Malaysia. Daftar dan pemasangan percuma dengan bayaran 3 pakej mini RM49.95 sebulan dan perjanjian 2 tahun [kalau berhenti dalam tempoh kena bayaran RM500.00].

Saya bersetuju melanggan 3 pakej mini yang berfaedah untuk perkembangan minda anak-anak dan minat suami serta keperluan diri saya iaitu Learning, Fun & Sport. Saya terjebak juga melanggannya kerana selama ini memerhatikan minat anak belajar melalui rancangan televisyen. Anak sulung saya 'Irfan selalu menunjuk aksi jenaka dan pintar yang ditirunya daripada rancangan TV terutamanya bab iklan. Di situ saya melihat pengaruh rancangan TV yang baik untuk perkembangan minda anak-anak saya. Si Adib yang baru berusia 15 bulan sudah pandai meniru aksi iklan TV3 dengan berjoget dan menyebut TV3. Saya seronok melihat kepetahan anak-anak.

Bukan itu saja, saya cuba mengajar anak-anak bertutur dalam bahasa Inggeris untuk melatih mereka sedari kecil agar memahami dan fasih berbahasa English bila mereka masuk ke alam persekolahan kelak. Oleh itu saya melanggan Fun yang menyediakan rancangan kartun berbahasa Inggeris. Sedikit sebanyak anak-anak akan memahami bahasa itu dengan mudah hendaknya. Saya tahu pengaruh TV begitu kuat dalam perkembangan hidup anak-anak. Namun saya akan pastikan masa anak-anak akan dapat diselaraskan dengan sebaiknya antara pelajaran dan hiburan.

Semoga usaha saya ini tidak akan sia-sia. Saya juga mengenangkan minat suami dalam bidang sukan lalu memilih Sport dan sudah pastinya kita boleh menonton kejayaan2 ahli sukan yang boleh menjadi contoh atau sekadar berhibur terutamanya sukan bolasepak yang amat suami minati.

Dan saya sendiri memilih Learning kerana saya minat rancangan Animal Planet dan Discovery untuk menjelajah dunia alam sains, teknologi mahupun flora dan fauna. Dan insyaAllah ia bakal memperkayakan ilmu dan pengetahuan saya untuk ditumpahkan dalam bentuk karya.

Armiza Nila

Raya Haji dan Tahun Baru 2007




Salam,


Tinggal beberapa hari saja lagi kita akan menyambut 'Idul Adha dan Tahun Baru Masihi 1 Januari 2007. Kedua-dua sambutan memberi makna yang mendalam kepada kehidupan para ummat.

Korban bukan saja dari segi material malah ia merangkumi pelbagai aspek atas kemampuan individu masing-masing. Pengorbanan banyak takrifannya. Betapa kita harus bersyukur dengan segala limpah kurnia-Nya selagi bernafas di bumi bertuah ini.
Para ibu tidak kurang pengorbanannya dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya dalam apa cara sekalipun. Para bapa berkorban jiwa dan raga mencari sesuap nasi dan susu untuk peningkatan hidup anak isterinya. Segala penat lelah bukan lagi jadi kayu ukur atas tanggungjawab yang sememangnya sudah terletak di bahu insan bernama manusia yang ikhlas memperjuangkan hidupnya semata-mata kerana Allah S.W.T.
Walau apa pun, seringkali insan itu lupa diri pabila meraikan sesuatu perayaan lebih dari sambutan yang sebenarnya dibenarkan oleh Islam. Biarlah kita berpada-pada kerana bumi ini semakin tua sebenarnya seiring dengan pertambahan tahun dan kurun. Kita jangan terus alpa didodoi mimpi-mimpi indah semata.
Peristiwa Tsunami contohnya masih segar di ingatan. Tempoh 2 tahun masih terlalu muda masanya untuk memulih keadaan mahupun perasaan mangsa. Kita sewajarnya insaf akan kejadian-kejadian seumpama itu dan bersyukurlah kerana kita masih terpilih untuk tidak menghadapinya malah sekadar melihat dan mendengar di kaca tivi mahupun di surat khabar ataupun internet. Betapa Allah murka dengan keangkuhan insan bernama manusia itu! Segala suruhanNya diabaikan dan apa yang dilarangNya menjadi ikutan pula. Na'uzubillahimindzhaliq! Semoga Allah menjauhkan segala kejahatan nyata seperti itu.
Kita sering dihantui masa depan yang masih kabur meskipun kita tetap terus berusaha membina kehidupan yang sempurna dan sebaik mungkin. Selainnya terserah kepada takdir Illahi. Jangan jadikan peristiwa-peristiwa dahsyat itu untuk kita terus berpeluk tubuh dan bersenyum lebar tanpa membuat apa-apa pun persediaan. Marilah menuju kesedaran lebih-lebih lagi bermula dari dalam rumah dan keluarga kita sendiri.
Semoga 'Idul Adha dan Tahun Baru 2007 ini akan tambah menginsafkan kita akan masa yang semakin terpinggir dan bagaimana harus kita melangkah laju dalam mengejar kejayaan untuk hidup di dunia mahupun di akhirat dengan keberkatan dan keredhaan-Nya.
Ingatlah, setiap kesusahan itu sudah pasti ada jalan penyelesaiannya. Dan setiap kesenangan itu haruslah dikongsikan pada mereka yang sepatutnya menerimanya. Berkongsilah menikmati kurniaan-Nya dan janganlah kita memakai pakaian kesombongan dan keangkuhan sebelum menyembah bumi ini!
Armiza Nila
Semariang Batu.

Thursday, December 21, 2006

Menjadi Ketua


Menjadi Ketua

haruslah berwaspada
biar pahit di hati
jangan sampai menyakiti

menjadi ketua
bukan semudah kata-kata
periuk nasi orang jagalah ia
sesempurna

baik budinya dikenang jua
sekali jahatnya sehayat disumpahnya
jiwa takkan tenteram
hati takkan tenang
selagi kuasa merajalela
diguna semahunya
tanpa berani bersemuka
mulut terkunci berbicara
orang bawahnya
terkapai-kapai berkelana
bagus tidak prestasinya
sama sahaja

menjadi ketua
mengingatkan kita sebenarnya
usah mendabik dada
dengan pemberian sementara-Nya
sekali diragut-Nya
kita pula terpana!

Armiza Nila
[office politicing berada di mana-mana, ada kalangan kita yang bernasib baik meskipun kurang sempurna pekerjaannya dan tidak kurang mereka yang kurang bernasib baik [malang] bila tindakannya tidak dipandang walau sebelah mata.

Oleh itu, jangan pandang belakang....

POLIKU
211206

Wednesday, December 20, 2006

TITANIC II

Saya sudah memposting berkenaan ini pagi tadi. Malang gagal dipublishkan.

Suka saya memendekkan saja preview filem ini setelah selesai saya menontonnya.

Walaupun saya tidak berpuas hati kerana banyak adegan yang telah di'potong' oleh TV3, saya tetap sukakan filem cinta ini. Kerana kekuatan cinta manusia sanggup berkorban dan kata-kata semangat yang dicetuskan oleh orang yang dicintai sememangnya bisa memberi kekuatan yang luarbiasa kepada diri kita. Ini yang terjadi akhirnya - kepada matinya Jack Dawson dan hidupnya Rose.

Hidup harus diteruskan tanpa orang yang dicintai. Dan sesungguhnya kemanisan cinta yang kita alami dulu-dulu [cinta yang benar-benar cinta] sewajarnya menjadi rahsia peribadi kita waima kepada suami/isteri sendiri. Kerana istimewa dan nikmatnya tidak bisa kita kongsikan pada orang lain meskipun orang lain itulah yang akhirnya melamar kita menjadi permaisurinya. Dan sudah pasti anda juga pernah mengalaminya.

Ini pandangan peribadi saya saja dan tidak ada kaitan dengan mana-mana pihak.

Armiza Nila

Friday, December 15, 2006

TITANIC at TV3








Malam tadi, saya menonton sekali lagi Filem TITANIC lakonan Kate Winslet & Leonardo De Caprio di Saluran Ceria TV3 bersama suami dan anak-anak. Biasanya, saya jarang menonton TV sehingga lewat malam seperti malam tadi. paling tidaknya, sambil menunggu suami menonton TV bersama anak-anak, saya akan terlentok lalu terus terlena di hadapan kaca TV sehingga suami kejutkan.
Lain pulak malam tadi, walaupun agak letih selepas balik dari pejabat dan mengalami migraine, saya tetap gagahkan diri untuk terus menonton filem ini. [Ada sesuatu yang tidak menganjakkan punggung saya sebenarnya]. Seingat saya, filem ini pernah ditonton bersama someone special dalam tahun 1997. Ketika itu sedang hangat bercinta. Saya menonton penuh minat manakala si dia lebih banyak tidur kerana tidak faham bahasa Inggeris. Saya menekuninya berdikit-dikit dan perlahan-lahan menangkap setiap patah perkataan yang keluar dari mulut pelakon kerana saya bukanlah pandai sangat berbahasa Inggeris.
Sebenarnya, saya mengulangi menonton filem ini kali ini dengan orang yang benar2 penting dan amat saya sayangi dan cintai - my husband. Kekuatan filem ini dari segi skripnya, ditambah dengan unsur seni lukis oleh (Jack Dawson), kemewahan kapal TITANIC sendiri dan seni-seni lain yang amat menarik hati saya bukan sekadar hanya menonton kosong.
Filem ini benar2 berkesan di hati saya bila menyentuh cinta dan kasih sayang yang amat mendalam. Pengorbanan tak berbelah bagi yang lahir secara automatis kerana kuatnya cinta antara dua hati. Mesej kepada kita betapa tidak bahagianya orang kaya kelas pertama kerana terlalu dikongkong dengan acara2 rasmi yang dialami oleh [Rose].
Malam ini saya akan menonton sambungannya kerana filem ini sebenarnya mengambil masa 3 jam. Tak larat TV3 nak siarkan sehingga habis. Dan saya akan membuat kesimpulan terakhir bila selesai menontonnya nanti.
Armiza Nila

Thursday, December 14, 2006

Pemanduan Tanpa Muzik

Semasa aku mengajak 'Irfan memandu ke Klinik Ibu untuk pemeriksaan rutin janin, tiba-tiba radio HotFM aku terhenti suaranya (sebelum itu mengeluarkan bunyi pop). Apalagi aku dengan gopohnya terus menekan tape Alunan Zikir Munajat. Lama....lama... tak berbunyi jugak. Sambil memandu, aku cuba tekan2 jugak berulangkali radio dan tape tapi gagal..... Peristiwa itu dari petang Isnin lalu (11 Dis 2006).

Hari Selasa dan Rabu, memandulah aku dengan boringnya tanpa muzik...

Sepanjang perjalanan, semalam (Rabu) balik dari pejabat, aku rasa kurang sedap badan. Walaupun sesekali rasa nak pitam aku teruskan pemanduan dengan laju. Dalam kesunyian tanpa muzik itulah tiba-tiba kenangan terhadap suami dan anak-anak melantun-lantun dalam kotak fikir aku. Saat aku bertelagah dengan suami, saat aku menjerit-jerit kerana kenakalan anak kecilku - memori itu telah menitiskan airmataku. Aku jadi insaf dalam kesunyian begitu. Ada juga hikmahnya sesekali bersunyi sendirian. Hanya deru enjin kereta saja yang kuat bunyinya. Mana taknya, kalau ada duit lebih aku service kereta guna Minyak Motobest CNI - cantiklah bunyi enjin. Kalau kurang duit aku gunalah apa-apa minyak Castrol kah, Shell Helix lah dll...apalagi berderu je bunyi enjinnya...

Tiba-tiba saja suamiku muncul petang semalam semasa aku terlena kerana letih memandu. Perkara pertama dibuatnya adalah 'mengecek' radio. Tengok fius ini fius itu tak ada yang putus. Yang aku gelihati, rupa-rupaya tape dapat digunakan bila suamiku menggunakan tape lain. Ya Allah! Apalah pendek akalnya aku ni, kataku dalam hati...terpaksa bersunyi dua hari kerana tak berinisiatif langsung.....

Walau apa pun, aku terpaksa bertahan dari tidak mendengar siaran radio kegemaranku HotFM kerana poketku masih koyak. Nak kena tunggu bonus jugak 18 Dis ni, baru dapat nak baiki radio/beli yang baru. Aku rasa haru pulak bila memandu sorang2 tak dengar orang bercakap....

Alahai radio-radio....lagu dari kaset rupanya tak dapat kalahkan kau....

Armiza Nila

Friday, December 08, 2006

BAKSRI SESI 2005/2006 dan Hari Keluarga BAKSRI 2006













BAKSRI - adalah sebuah pertubuhan berdaftar yang bermastautin di Politeknik Kuching Sarawak : singkatan daripada nama BADAN KEBAJIKAN, SUKAN DAN REKREASI Kakitangan Pentadbiran Politeknik Kuching Sarawak.






Sesi 2005/2006 hampir menutup tirainya. Semalam adalah tarikh akhir mesyuarat AJK Tertinggi Baksri mencapai kata putus untuk mengadakan Mesyuarat Agung Baksri bagi membubarkan AJK Tertinggi Sesi 2005/2006 dan perlantikan AJK Tertinggi Sesi 2007/2008 pada 15 Disember 2006.






Sepanjang Sesi 2005/2006, saya telah dipilih sebulat suara memegang tonggak jawatan sebagai Ketua Biro Rekreasi. Selama hampir 2 tahun memegang jawatan tak bergaji ini, begitu banyak cabaran dan dugaan yang telah saya lalui bersama rakan-rakan terutama Penolong Ketua Biro Rekreasi 1 dan 2 [En. Azis Sapali dan Puan Muri @ Murie ak Bali].






Saya rasa cukup penat memegang jawatan ini lebih-lebih lagi ia adalah sebuah pertubuhan berdaftar. Pelbagai karenah ahli telah masak dalam fikiran. Setiap tindakan harus berhati-hati. Kalau terlebih tegasnya, pasti sesama ahli atau lebih rapat lagi rakan sepejabat yang pernah makan dan minum sepinggan secawan menarik muka masam dan monyot! Saya sudah akur semua itu. Dan dengan hormat dan tenangnya, saya akan meletak jawatan ini tanggal 15 Disember 2006.






Dengan keadaan bakal melahirkan seorang lagi anak dan menguruskan anak-anak yang masih kecil dan perlu perhatian penuh di samping tugas yang mencabar di pejabat, saya tidak berdaya memikul tanggungjawab lagi dengan BAKSRI. Saya bukan serik cuma cukuplah ilmu dan pengalaman yang saya lalui bersama AJK Tertinggi Sesi 2005/2006 yang tidak pernah saya impikan itu.






Sepanjang tempoh itu, banyak aktiviti yang telah saya laksanakan meskipun adakalanya saya tidak dapat menyertainya kerana ketika itu baru habis pantang dan punya anak-anak kecil. Apapun, saya bangga kerana dapat mengurus dan mencapai matlamat dalam setiap aktiviti yang dijalankan.






Terakhir, BAKSRI telah mengadakan Hari Keluarga Baksri 2006 sekaligus Makan Malam di Santubung Resort Kuching [25 - 26 November 2006]. Dengan sedikit kewangan BAKSRI ditambah hulur duit sendiri sebanyak 24 keluarga BAKSRI telah menginap di hotel dan selebihnya peserta harian (sekitar 145 orang) yang cukup memeriahkan Majlis Makan Malam Baksri 2006 di Ballroom 3 SR. Pelbagai acara pada malamnya diatur dan dijalankan oleh AJK Hadiah dan semuanya berjalan lancar. Yang bertuah mendapat hadiah-hadiah yang hebat namun yang tidak bertuah mendapat juga hamper seorang satu.






Keesokan paginya, diadakan pula Sukaneka untuk keluarga BAKSRI. Saya, suami dan anak-anak hanya sempat mengikuti satu aktiviti sahaja iaitu Mencari Harta Karun dan meneka kacang, reben dan tembikai. Tuah pun tidak menyebelahi kami.






Sebelum itu kami minum pagi buffet di Cafe Gunong bersama anak-anak. Saya terharu dengan suami yang katanya inilah kali pertama dia minum pagi di Hotel. Maklumlah dia seorang tentera yang kebanyakan masanya hanya di hutan belantara. Jika dibandingkan dengan saya sendiri sudah banyak kali menginap di hotel dan menghadapi pelbagai jenis lauk-pauk pada pagi, tengahari, petang mahupun malam. Saya gembira kerana telah berjaya mengambil hati suami untuk menginap di hotel kerana beliau begitu liat untuk berbulan madu kerana tidak biasa katanya. Saya yang bertegas akhirnya berjaya mengubah persepsi kunonya kerana sepanjang perkahwinan yang hampir menjejak 4 tahun, inilah kali pertama kami berbulan madu [dengan membawa dua orang anak pula tu] ditambah setengah dalam kandungan....hehehe...






Apapun, saya tidak pernah merungut dengan style suami yang agak low profile dan kurang mahu dikenali atau menikmati keindahan-keindahan seperti itu.






Hari Keluarga BAKSRI 2006 cukup meninggalkan kesan dalam hidup dan sejarah perlantikan saya sebagai Ketua Biro Rekreasi. Saya telah menjalankan aktiviti-aktiviti yang tidak kurang penting dan pasti akan dikenang tidak pun oleh diri saya sendiri.






Armiza Nila



POLIKU



di bawah kaki Gunung Serapi.

Thursday, December 07, 2006

PTK

PTK adalah singkatan daripada perkataan PENILAIAN TAHAP KECEKAPAN.

Masuk tahun ini, kali keempat saya akan menduduki peperiksaan yang digeruni oleh setiap lapisan kakitangan kerajaan. Ia bukan saja menguji minda dan kepakaran malahan dia menguji ketahanan jiwa dan mental. Mampukah dalam usia dan keadaan semasa tugas dibebani lagi dengan harus mengulangkaji pelajaran berkaitan pekerjaan itu sendiri ditanggung sekujur tubuh seorang kakitangan awam?....Persoalan itu menuding kepada saya sendiri sebenarnya dan bukan saja kepada semua gomen servant.

Tiga tahun yang lepas, saya hanya mencapai keputusan Aras III sahaja. Ia hanya melayakkan untuk kenaikan pangkat bukannya anjakan gaji. Satu subjek yang paling payah oleh kebanyakan orang ialah kertas Am yang kebanyakan soalannya diambil dari buku Tonggak 12, Pekeliling Perkhidmatan dan seangkatannya. Alhamdulillah saya lulus Aras IV di bahagian itu walaupun agak sengit juga soalannya. Yang menjadi masalah, ialah kertas II iaitu berkenaan dengan tugas seharian kita di pejabat yang meliputi pelajaran daripada Perintah Am, Arahan Perbendaharaan, Arahan Perkhidmatan, Tatacara Pengurusan Stor dan Akta Prosedur Kewangan 1957. Saya akui, kalau bab soalan perkhidmatan dan perintah am, saya agak mahir kerana saya menjalankan tugas itu sehari-hari saya di pejabat. Dibanding dengan soalan berbentuk akaun (kewangan) saya agak lemah kerana alasan yang paling kukuh adalah saya tidak menjalankan tugas itu.

Jadi, oleh kerana tuntutan peperiksaan, saya hanya mempelajari ilmu akaun hanya daripada buku dan panduan yang saya dapat semasa menghadiri kursus perkhidmatan dan kewangan. Walaupun saya agak kurang faham, namun saya tetap berusaha untuk memahaminya. Dan sejak kebelakangan ini, saya berusaha sendiri untuk membuat tuntutan perjalanan bila saya menjalankan tugas rasmi di luar pejabat. Sedikit sebanyak ia memberi bonus kepada akal fikiran saya agar saya mudah menjawab soalan nanti.

26 Disember 2006, jam 11.00 pagi, saya akan menghadapi PTK di Bilik Kuliah PKS. Saya sudah dan sedang mengulangkaji pelajaran seadanya dan sebaik mungkin seterdaya saya. Dalam keadaan mengidam yang teruk ini, terkial2 juga saya mencuri masa yang sesuai untuk belajar. Tapi inilah dugaan punya anak-anak kecil, tengah hamil dan harus terus mengisi dada dan fikiran dengan ilmu yang takkan habis.

Saya berharap benar, kali ini saya akan lulus dengan cemerlang dan sekaligus mendapat Aras IV. Legalah sedikit nanti sebelum saya menjejak ke PTK Tahap II. Semoga Allah membuka jalan kepada saya dan memberi ketenangan kepada saya untuk menghadapi peperiksaan ini seperti yang pernah saya alami semasa menduduki SPM dulu.

Amin.

Armiza Nila
POLIKU

Wednesday, December 06, 2006

Selamat Kembali Kopral Salmah Yahya

Salam---

Khamis malam Jumaat ( 30 Nov 2006 = 09 Zulkaedah 1427H), saya menerima bertubi-tubi sms dari rakan-rakan anggota Askar Wataniah Rej 511. Dimulai oleh sms Naziah, Sarjan Julai, telefon oleh Sabrina, sms Nilam dan Zainoreen. Pada mulanya saya hampir tidak percaya.

"Puan, Kopral Salmah meninggal dunia kol 3 petang tek di Hospital. Tolong maklum kepada yang lain." begini bunyi sms mereka.

Saya lalu tergamam lantas menitiskan airmata. Saya tidak menyangka beliau pergi menemui-Nya terlalu awal. Tanpa berlengah saya menelefon hp Sjn Julai maukan kepastian. Sah...

"Beliau meninggal kerana demam. Mengejut", jawab Sjn Julia dengan sayu.

"Kami dalam perjalanan ke rumah arwah melawat jenazah. Tengah menunggu Tuan Tariq. Puan tak pergi sekali?,"tanya Sjn Julia lanjut.

"Maafkan saya. Saya kurang sihat. Lagipun suami tak ada di sini, tengah travelling di Sematan. Kirim salam saya pada keluarga arwah,"jawab saya sendu.

Begitulah episod akhir kehidupan manusia.

Serasa masih hangat pertemuan terakhir saya dengan arwah Kopral Salmah semasa khemah tahunan yang lepas di Kem Semboyan Kota Samarahan. Saya selalu berkunjung ke bilik penginapan mereka yang berada di hadapan bilik penginapan saya sambil lepak-lepak makan dan berbual kosong.

Saya melihat beliau membelek buku kecil yang agak kusam. Semacam buku fadhilat solat kecil yang lama bertulisan jawi. Saya tak ingat nama buku itu dan saya juga ada menyimpannya - pun agak kusam. Dengan baiknya, beliau menyarankan kepada saya supaya mengamalkan ayat-ayat Al-Quran yang terpilih juzuknya seperti Al-Khafi, ayat seribu Dinar dll setaip kali selepas solat. InsyaAllah kata beliau, semasa kita mati nanti, senang malaikat mencabut nyawa dan ayat-ayat inilah yang akan menolong meringankan beban kita di alam kubur.

Ketika itu, saya tidak terfikirkan bahawa kata-kata beliau menandakan beliau akan pergi menemui-Nya dalam beberapa bulan sahaja selepas mengeluarkan kata-kata ini.

Beliau pergi tiada sakit teruk. Tidak menyusahkan orang. Semasa hayatnya bersama saya sejak 1997 beliau adalah antara anggota paling lama (senior saya) yang paling aktif kehadiran bulanan Askar Wataniah mahupun Khemah Tahunan. Pemergian arwah begitu berkesan di hati saya. Kami kehilangan seorang Kpl yang baik, lucu, bising mulutnya (membuatkan kem kami riuh) dan murah hatinya.

Hari ini, genap 7 hari beliau kembali ke Rahmatullah. Saya menerima undangan ke Majlis Tahlil Hari Nujuh Allahyarhamah menerusi sms oleh kaum keluarganya. InsyaAllah, malam ini saya akan ke Sinjan, sama-sama bertahlil buat arwah memandangkan saya tidak sempat memberi penghormatan terakhir buatnya.

Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas roh Allahyarhamah Kpl Salmah Yahya.

Al-Fatihah.

Amin

[Armiza Nila]
Semariang Batu
06.12.06

Tuesday, December 05, 2006

Penulis Sarawak.

Salam---

Sebenarnya Sarawak Darul Hana tidak kekurangan penulis-penulis hebat setanding penulis muda Semenanjung yang gah namanya samada penulis 'tua' mahupun muda.

Antara penulis yang begitu baik karyanya yang saya dengar dari rakan akrab adalah saudara Abdillah SM. Walaupun saya jarang membaca karya beliau- hanya beberapa cerpen beliau di Dewan Sastera misalnya, saya terkesan bahasa dan pengolahan karyanya begitu menarik dan unik sekali. Armiza kebelakangan ini begitu ingin sekali mengutip ilmu dan pengalaman beliau yang bukan saja penulis ini tetapi juga seniman - penyanyi dan pencipta lagu-lagu puisi.

Beliau berperwatakan sederhana. Berambut dan berjambang putih dan topi unik tidak lekang di kepalanya. Sudah pasti beliau punya kelainan dan keistimewaan sendiri dalam berkarya. Armiza pernah sekali bersama-sama beliau Membaca Puisi sebagai Seniman Jalanan semasa Hari Pelancongan Sarawak Tahun --- Miza dah lupa di Tebingan Kuching [yang ketika itu dipelopori oleh API (yang ketika itu IKATAN) ] dan sempat menghadiahkan beliau sebatang pen berlambang Politeknik Kuching. Setelah itu Miza jarang bersama beliau cuma sesekali melihat kelibat beliau dalam acara sastera.

Armiza berharap sedikit masa lagi API akan mengatur pertemuan dengan seniman besar ini. Dan Armiza tidak akan melepaskan peluang keemasan sebegini.

Kalau kita di Sarawak agak sukar mengatur pertemuan dan bicarawara dengan Sasterawan di Semenanjung, di Sarawak sendiri apa kurangnya jika kita mahu ia terjadi. Masing-masing penulis itu punya identiti dan kredibiliti sendiri. Itu yang penting.

Armiza Nila

Wednesday, November 29, 2006

Puisi - Serelung Jiwa Yang Aneh





tatkala lahar berapi
membakar serelung jiwanya

dia mengharap tamparan
tendangan
mahupun pukulan
hebat dari sang Raja
tapi hampa

darah gelegak yang merasuk mindanya
terus-terusan menghasutnya
dia 'berdosa'
lantaran terus membaham sekujur tubuhnya SENDIRI!
aku berdosa!
aku berdosa!
aku berdosa!
jeritnya...

hilang entah ke mana
sekeping kalbunya yang selembut salju
oleh angin puting beliung
yang menutup halkumnya

sekucil perkataan
yang tiada sekuman pun niat amarah
telah memusnahkan jiwa raga

oh Tuhan!
buat kesekian kalinya
dia menolak dari bala seumpama
tapi ia tetap datang juga
menjenguk mahligainya
menggegarkan mutiara
dan batu marmar yang mengelilingi
tasik kasihnya

betapa dia tersadar
muslihat syaitan maha besar
cuba menguasai
tipis imannya

Ya Allah!
bantulah
lindungilah
peliharalah
pimpinlah
hamba-Mu
yang alpa dan lalai
menuju ke lorong
keredhaan-Mu...

Armiza Nila
Semariang Batu
2 Nov 2006

Awal Pagi

Salam---

Hari ini saya sampai ke pejabat lebih awal daripada biasa sehingga bertempuh bahu dengan Pengarah. Saya pun menyapanya dan beliau pun membalas sapa sambil bertanya khabar Family Day yang kami adakan di Santubong Resort hujung minggu lepas. Alhamdulillah kata saya, semuanya berjalan baik dan tidak ada kemalangan terjadi. Kami pulang ke rumah dengan ria sekali.

Pagi awal sebegini, jalan raya menuju ke Matang begitu sunyi dan tenang. Saya boleh memandu selaju mana yang saya mahu. Terasa ketenangannya. Saya tidak bersesak seperti selalu. Namun hanya kekadang saja saya datang awal ke pejabat. Itupun jika malamnya saya tidur lena.

Perjalanan ke tempat kerja paling cepat pun 45 minit. Betapa jauh rasanya. Tapi apakan daya, saya tidak ada pilihan. Jauh pun saya telusuri jua. Pernah saya minta dipindahkan ke tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah. Namun jawapannya cukup mengecewakan. "Puan boleh memohon semula jika tidak menerima jawapan sehingga tempoh dua tahun", begitu bunyi suratnya. Atas alasan tiada pengganti di tempat saya jika saya berpindah. Entahlah, memang sukar orang menerima tawaran kerja di tempat terpencil sepeti ini melainkan benar2 terdesak tiada pekerjaan/pilihan.

Saya tertampar sebenarnya. Sudah lima tahun saya bekerja di sini dan begitu terasa sekali perjalanannya yang jauh lebih-lebih lagi saya punya anak-anak kecil yang perlu mendapat rawatan di klinik berdekatan setiap bulan di samping mengendong perut yang 'berisi' ini. Apapun, saya tetap gagahkan jua meskipun suami jauh di perantauan. Saya bertarung sendirian menguruskan hal-ehwal rumahtangga.

Saya tidak mau memikirkan benda-benda berat seperti ini sebenarnya. Saya menjalani hari-hari seperti biasa dengan semangat bara berkhidmat kerana-Nya, insyaAllah dan saya percaya suatu hari nanti saya akan memperolehi jua nikmatnya.

Awal pagi, jiwa saya tenang mendengar MP3 Al-Quran 30 juzuk yang kawan saya Rudy Iskandar hadiahkan. Semoga hari-hari saya terus-terusan nyaman dan indah.

Armiza Nila
POLIKU, Kuching, Sarawak

Monday, November 20, 2006

'Idul Fitri 1427H Di Teratak Armiza Nila




gambar1 : armiza nila bersama suami dan anak-anak masa raya di rumah kak Misnah di Semariang Batu

gambar 2 : kakak Lina, kak Lily dan kakak Banun sedang membuat kelupis

Hari ini, 28 Syawal 1427H, Armiza Nila baru berkesempatan merakamkan kisah sambutan Syawal 1427H pertama kali di teratak sendiri.

Seperti orang lain, Armiza mau merasai aroma asli beraya di kampung. Petangnya sebelum Syawal menyingkap tabir, Armiza, suami dan 'Irfan ke bandar Kuching membeli lauk-pauk raya dan baju untuk anak-anak. Di pasar jalan Gambir, manusia berpusu-pusu mendekati gerai menjual daging dan ayam di samping pasar sayur. Armiza membeli 2 kilogram daging dan 2 ekor ayam serta bermacam jenis sayur campur. Tidak lupa membeli sedikit bahan kuih batik jawa di kedai Sweet Heart kerana bila saya menjenguk gerai2 kecil di sekitar jalan Gambir dan India Street, kuihnya agak murah namun rupanya dan agaknya rasanya kurang menyelerakan lantas membuat Armiza mau tidak mau perlu membakar kuih untuk diberikan pada mertua dan kegunaan sendiri.

Selesai di pasar Kuching, kami menjejak pasar Satok pula. Berjalan di gerai seluar jeans jenama Levis (tiruan) dan pakaian untuk anak-anak. Saya membeli 2 helai seluar jeans Levis untuk Adib dan 'Irfan dengan harga RM10.00 satu dan T-Shirt Harley Davidson dengan harga RM5.00 satu. Murah kata penjual kerana gerai dah nak tutup memandangkan esok nak raya.

Sesampai di rumah jam pukul 4.00 petang. Armiza bergegas memasak beras pulut dan santan untuk menyediakan 'kelupis'. Pembantu saya, Isda menolong membersihkan daun Nyirit untuk membungkus kelupis. Nasi pulut masak, saya membiarkan Isda membalut kelupis bersama sambal ikan tahai seorang diri kerana saya harus membuat kek batik jawa menggunakan kuali besar (menggaul di bawah api dapur gas) sebanyak 2 bahan. Manakala suami sibuk membersih dan menghiris ayam dan daging. Suami juga menolong saya untuk mengukus 300 biji kelupis malam itu sebelum dihantar ke rumah abang Bet dan kak Mis yang memesan.

Selesai masak kuih, saya mengemas rumah seadanya, memasang langsir baru, memasang kusyen baru, lapik meja, tempat menyimpan biskut, kuih di samping menyediakan ramuan masakan lauk.

Malam Syawal saya cukup letih menyediakan kelengkapan raya. Bunga plastik yang saya hendak gubah, tidak jadi digubah. Saya terlentok tidur di depan pintu. Saya dan Isda sempat menghiris sayur untuk dimasak Subuhnya. Saya tidur sekitar jam 1.00 pagi.

Subuh lagi selesai solat, saya terus ke dapur untuk masak. Masak nasi putih, ayam masak merah, daging masak kicap dan sayur campur. Saya menyediakan makanan seadanya untuk menyambut Syawal sementara suami ke Surau Nurul Khair untuk Solat 'idul Fitri.

Tak seperti biasa, Syawal kali ini kami terlebih dahulu menjamu selera ke rumah Kak Misnah kerana membuat Rumah Terbuka Raya Pertama. Emak tidak menyediakan jamuan seperti tahun-tahun lepas kerana kak Mis sudah menyediakan semuanya.

Seusai makan, barulah kami anak beranak dan adik-beradik bersalaman mohon ampun dan maaf kepada ibubapa, suami-isteri, anak-anak, ipar duai dan anak-anak buah di samping tradisi kami bagi yang berkeluarga memberi angpau raya kepada anak-anak.

Saya cukup gembira menyambut 1 Syawal tahun ini. Selepas melayan abang2 dan kakak2 yang berkunjung ke rumah kami, sekitar 1.00 petang barulah kami berangkat ke rumah mertua di Sinjan. Apapun, biarpun letih saya berpuas hati dengan aroma asli raya di kampung seadanya.

Armiza Nila

Kg Semariang Batu, Petra Jaya, Kuching, Sarawak

28 Syawal 1427H

Thursday, November 16, 2006

Mama Unsang



Gambar : Wajah Mama Unsang di sisi suamiku (Hanafi) dan anakku ('Irfan)

Inilah wajah mama kandung suamiku yang telah 31 tahun tidak pernah dikenali rupa parasnya. Aku terperasan perasaan suamiku terhadap mamanya. Mama cukup baik melayan kami anak-beranak selama seminggu di Sualai.

Mama yang selalu sakit2 nampak cergas pula bila mendapati Nafi kembali ke pangkuannya. Memang sebak tika itu. Beritanya mama pernah dihantar oleh ambulan emergency ke Hospital KK kerana menghidap sakit paru-paru. Alhamdulillah, kami memanjatkan kesyukuran kepada Allah Yang Maha Kuasa kerana telah menemukan kami terutama suamiku sebelum apa-apa yang tidak baik terjadi kepada mama.

Sepanjang di Sualai, mama tidak lokek berbelanja. Mengenangkan menantunya yang mengidam macam2, mama masakkan saja apa yang dimau saya mengalahkan melayan anaknya sendiri. Ketam bakau, udang sungai, daging pelanduk, kelupis, sayur bunga durian, ikan tamban masak empap masam, ikan semilang masak kuning semuanya saya rasai dengan enak sekali. Kak Lina (kakak sulung Nafi) adalah orang yang paling sibuk melayan keinginan saya. Pergi ke bandar Lawas, kak Lina berkejar2 mencari daging kerbau yang popular di Lawas kerana harganya hanya sekitar RM8.00 sekilogram. Bila dimasak goreng kering, manis rasa dagingnya mengalahkan daging lembu di Kuching.

Mama Unsang sibuk menyiang ikan tamban hidup untuk dibuat empap (bahannya terdiri daripada banyak asam kundur kering, cili giling, garam dan ajinomoto). Rasanya masam masin.

Memang pasal melayan anak yang lama sudah tidak bersua keluarga suamiku nombor satu. Aku cukup hiba berbaur gembira. Dalam keadaanku yang morning sickness yang teruk, mamalah yang melayani karenah 'Irfan dan Adib. Mama menyediakan Uyut (Buaian) - (Unggak) bahasa Kedayan dari kain batiknya untuk menidurkan anak-anakku. Apalagi 'Irfan yang jarang dibuai olehku, merasa seronok dan nyenyak sekali tidurnya.

Bahkan semua keperluan kami anak-beranak dipenuhi oleh Mama dan keluarga dengan sempurna.

Armiza Nila

Friday, November 10, 2006

Mengenang Sualai II


Gambar : Anak-anak saudara suamiku - sedang sibuk membuang kulit ikan tahai.

Orang paling gembira menerima kedatangan suamiku adalah ibu kandungnya Mama Unsang. Di wajah tuanya terpancar kegembiraan teramat menerima kehadiran dan menatap wajah anak kandungnya setelah 31 tahun terpisah. Begitu juga suamiku. Terpampang wajah gembira bercampur pilunya di saat bertemu seluruh ahli keluarganya.

Mama Unsang berbangsa Kedayan-Brunei tidak lekang memeluk ciumku dan anak-anak. Mereka pun kelihatan serasi dengan nenek kandung mereka tapi belum mengerti kenapa semua ini terjadi.

Keesoakan harinya, pagi-pagi lagi selepas bersahur, aku menyambung tidur kerana masih keletihan. Aku kuatkan diri untuk berpuasa malangnya bila menjelang tengahari mualku datang bertunda-tunda dengan muntah dan akhirnya aku mengalah untuk berbuka sahaja. Sejak awal pagi, seorang demi seorang saudara suamiku datang menjenguk kami di rumah Mama. Adik-beradik bapa mertuaku yang sebenar dari ibu dan bapa yang sama hanyalah tiga orang. Arwah bapa mertua (Bolhassan) yang bongsu, Tangah Sari dan Tua ... (aku lupa namanya). Mereka datang menjenguk sambil menangis sendu kerana baru pertama kali bersua. Mamit Ustazah Samsiah (sepupu bapa mertuaku) dan suaminya Pak Damit Ustaz Matusin turut menziarahi. Mamit Samsiah yang becok mulutnya bercerita tak henti-henti pun menjejak kasih dan menceritakan bahawa anak-anaknya ada belajar dan bekerja di Kuching dan minta aku bertemu dan menjenguk mereka. Airmata terus mengalir dari seorang ke seorang yang datang berkunjung.

Sepupu suamiku, Kak Alam, Kak Banun dan Kak Tijah (anak-anak Tangah Sari) bersama anak-anak tak putus2 mengunjungi kami. Terasa sebak dan keharuan yang teramat.

bersambung....

Tersentuh...

petikan daripada saifulislam.com...

Tetapi Rahmat Allah bukan perkara kecil. Ia diminta dengan tawasul kita kepada sifat al-Wahhab Allah SWT. Saya baru mendengar kuliah 99 nama Allah tentang al-Wahhab dari Ustaz Kariman dan ia menambah hiba di hati saya.

Allah sebagai Tuhan yang bersifat al-Wahhab bermaksud Yang Maha Memberi. Namun memberi dengan sifat al-Wahhab itu, terkandung di dalamnya lima sifat:

(1) Memberi tanpa meminta apa-apa balasan. Allah, Tuhan yang al-Wahhab itu Maha Kaya, tidak perlu kepada Makhluk. Kerana itulah Allah SWT Memberi dengan sifat-Nya yang al-Wahhab tanpa mengurangkan langsung perbendaharaan-Nya. Percikan sifat al-Wahhab itu Allah limpahkan kepada jiwa ibu bapa kita agar mereka kaya dengan kasih dan sayang. Sayang kepada seorang anak tidak berbeza dengan sayangnya kepada 9 anak yang menyusul kemudian. Anak durhaka, menconteng arang ke muka, mereka masih terus memberi kasih sayang, kerana mereka beroleh kasih sayang Rahmat Allah yang al-Wahhab.

(2) Memberi secara berulang-ulang. Al-Wahhab terus memberi berulang kali, tidak jemu Memberi dan tidak Marah diminta. Percikan sifat inilah yang Allah limpahkan ke jiwa ibu bapa kita. Mintalah susu pada setiap malam di usia kecilmu. Ibu akan bangun meraba dinding mencari cahaya, demi anak yang diberikan hati dan cinta. Dia tidak jemu, bahkan sejurus selepas kita dewasa, diberikannya pula cinta itu kepada adik kecil yang baru menjenguk datang ke hidup duniawi.

(3) Memberi tanpa diminta. Allah SWT Tuhan yang al-Wahhab, memberi tanpa diminta. Hitunglah pada pelbagai yang ada di sekeliling kita. Dia berikan kita wajah yang cantik tanpa kita minta. Dia berikan kita sahabat yang baik, tanpa kita minta dan jangka. Allah itu Maha Memberi dengan sifat-Nya yang al-Wahhab. Sifat inilah yang Allah tanamkan kepada naluri ibu dan bapa. Pelbagai keperluan dan hiasan hidup diberikan tanpa diminta. Ibu mencium dahi, ayah menyapu kepala, semuanya demi sayang mereka kepada kita, sayang yang diberi tanpa diminta.

(4) Memberi sesuatu yang amat berharga. Allah Dia yang al-Wahhab memberi dengan sifat itu perkara-perkara besar yang amat berharga. Dia kurniakan kita dengan sifat al-Wahhab itu, bukanlah hiasan-hiasan dunia yang tidak berharga. Al-Wahhab, dari-Nya datang RAHMAT yang menyelamatkan kita, mengampunkan kita, memelihara kita tanpa menghitung-hitung satu taat dibalas nikmat, satu maksiat dibalas binasa dan kiamat. Peluang demi peluang diberikan. Sehinggalah sampai masa pintu taubat itu Dia tutup atau kita menutupnya sendiri. Semuanya diberikan kerana kita hidup untuk TUJUAN yang besar. Cebis-cebis sifat inilah Allah limpahkan kepada jiwa ibu dan bapa kita. Diberikannya kasih sayang yang tidak mampu diberi walau oleh dua pasangan yang paling bercinta. Kasihnya ibu membawa ke syurga, kasihnya ayah selama-lama. Semuanya diberi agar kita membesar penuh sempurna, menjadi insan yang berjaya dan mulia.

(5) Memberi sesuatu yang baik untuk menghasilkan kebaikan. Allah jua dengan sifat al-Wahhab memberikan pelbagai kebaikan kepada kita, agar dengan kebaikan itu kita sambut dengan syukur dan taat, berupa khidmat kepada sesama insan. Diberikan-Nya kita harta, agar kita bersedekah. Diberikan-Nya kita ilmu agar kita berdakwah. Diberikan-Nya kita pelbagai yang baik, agar dengannya kita berbuat baik.

Kita mohon agar Allah limpahkan Rahmat-Nya kepada kedua ibu bapa kita. Allah memberikan rahmat itu dengan sifat al-Wahhab-Nya. Dengan itu jualah diberikan-Nya ibu dan bapa kita kasih sayang tanpa syarat untuk anak-anak mereka. Dengan itu jualah mudah-mudahan Allah mengasihani kita tanpa syarat, mengampunkan kita tanpa syarat. Kerana syarat Allah terlalu perkasa untuk disahut oleh hamba yang lemah dan kerdil seperti kita.

"Ya Allah, ampunkanlah dosaku, ampunkan dosa ibu bapaku dan rahmatilah mereka dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana mereka menyayangiku ketika diriku masih kecil".

Ameen.

p/s..Ustaz Hasrizal, jika terbaca blog saya, maaf kerana saya memetik kata-kata hikmah ini tanpa kebenaran terus dari Ustaz. Saya kira ia dalam IT boleh saja digunapakai oleh sesiapa

Armiza Nila tersentuh dengan tulisan Al-Ustaz Hasrizal ini berkenaan peranan ibubapa terhadap anak2...betapa ia menjadi pengajaran dan bekalan buat saya selaku ibu kepada anak2, isteri kepada suami dan anak kepada ibu dan bapa saya yang masih menghirup nafas hingga ke saat ini. InsyaAllah...

13 tahun yang lampau...

saya pernah bercita-cita mau menjadi pendakwah bebas selepas tamat pengajian.

namun cita-cita tinggal cita-cita cuma semangatnya masih berbara di jiwa saya yang serba kekurangan ini.

lantaran tidak berupaya melanjutkan pengajian seterusnya saya quit dengan berat hati dan terus mendapat tawaran pekerjaan satu demi satu dari swasta, state sehinggalah ke federal.

alhamdulillah, setelah 13 tahun meninggalkan zaman persekolahan, usia saya banyak dihabiskan mengumpul pengalaman sebagai karier. dan paling membanggakan saya menjadi penulis - yang sekaligus dapat juga mencuba menyampaikan dakwah secara terang mahupun bersembunyi (simbolik).

moga Allah memperkenankan doa saya untuk menjadi [pendakwah bebas] dalam arena penulisan yang mendapat keredhaanNya

Armiza Nila
mengenang IIUM

Secebis kata jiwa - KAWAN

[kawan ketawa senang dicari
kawan menangis jarang ditemui]

kata-kata ini benarnya
kalau ia tak benar tak mungkin ia terungkap
dan sering meniti di bibir insan bernama manusia

kawan makan kawan
kawan jadi lawan
kawan menawan
kawan minum secawan
- jadi racun berdendam
: semuanya adalah lumrah dalam kehidupan
manusia

sesekali
aku jadi muak berkawan
terutama sesama perempuan
bukanlah bermakna aku membenci mereka
yang suka berjaja mulut dan fitnah cerca
namun hakikatnya terlalu pahit untuk dihadap
apatah untuk dihadam
jadi daging jadi jiwa
meresap otak
mencecah tubuh
menjahit raga

kawan
hentikanlah opera
filem paling box-office kau ciptakan
aku semakin mengerti
sanggup kau menutupi bencimu
dengan pakaian laknat
bernama HIPOKRIT!

ikhlaslah walaupun pahit kuterima
: bukan seerti tika ini
jadamnya macam pohon khuldi
memisahkan Adam dan Hawa
memisahkan erat Kau dan Aku.

Armiza Nila
POLIKU
06 Nov 2006

... di bawah ini komen berharga dari seorang pengkritik misteri Saudara Penagunung yang amat saya hargai...

alahai

alahai saudara armizanila. lumrahnya manusia memang begitu. dalam setandan pisang tak semua bagus.

anggap saja segala-galanya sebagai dugaan yang menguji ketabahan dan kecekalan terutama anda sebagai perempuan.

sudah menjadi perempuan!

jika mereka berbuat onar, itu adalah kelemahan mereka.

anda yang punya kemanusiaan yang tinggi, harus banyak bersabar.

jangan melawan api dengan api. lawanlah dengan sejuk air. itu ilmu daripada ahli bomba.

anda perempuan kepada seorang kawan itu, anda juga isteri kepada suami itu, anda juga ibu kepada anak-anak itu.

tapi paling pentingkan, anda ADALAH HAMBA KEPADA PENCIPTA itu.

jadi seribu satu hal, sepatutnya menjadikan anda pemikir bahawa manusia memang dilahirkan serba kurang.

tanggapilah dengan senyum dan sabar, biarpun di dalam dada debarnya dapat meruntuh langit.

syaitan larinya lebih laju daripada alir darah. ingatlah itu saudara armizanila.

itulah perang yang lagi satu, kata m. nasir.

p/s....saya amat menghargai kata-kata hikmah yang keluar dari jiwa seorang penagunung ini. lantas itulah saya memasukkannya ke dalam blog unutk mempercantikkan dan memeriahkan lagi suasana blog saya.

Thursday, November 09, 2006

Mengenang Sualai


01 Otober 2006, pertama kali saya dan keluarga menjejak kaki ke Kota Kinabalu dengan menaiki pesawat Air Asia selama satu jam setengah.

Setiba di Airport KK, sudah ramai orang menunggu sanak saudara. Belum sempat kami meninjau keluarga suamiku yang tak pernah dikenal paras rupa sebelum ini, tiba-tiba seorang wanita 40-an menghampiri suamiku.

"Kamu Si Nafie,"tanyanya sembari menangis tiba-tiba.

Suamiku yang terdiam hiba mengangguk perlahan-lahan.
Lantas dua orang wanita 40-an dan seorang kanak-kanak perempuan manis memeluk dan mencium kami empat beranak sambil menangis pilu tanpa menghiraukan kesibukan orang ramai yang lalu-lalang. Aku turut terhiba.

Kakak suamiku bernama Lina yang menegur kami mengetahui wajah kami melalui gambar yang dikirim pada rakanku Ramlah beberapa bulan yang lalu. Katanya wajah Si Nafie mirip wajah Abangnya Si Seven (Tujuh).

Maka bermulalah perjalanan menjejak kasih suamiku di bulan Ramadhan yang penuh barakah.

Perjalanan menuju Lawas dari Kota Kinabalu yang sebenarnya mengambil masa 3 jam menjadi 6 jam kerana kami banyak singgah seperti di Beaufort dan Sipitang dan aku pun dah tak ingat lagi nama tempat lainnya. Kami selamat sampai ke Kampung Sualai tepat jam 7.30 malam.

Kedatangan kami pada malam itu disambut meriah oleh semua adik-beradik dan keluarga kandung suamiku. Macam pengantin baru pulak lagaknya. Riuh-rendah bunyi rumah suamiku menyambut kehadiran kami. Kami lantas dijamu jamuan malam dengan sambal ikan tahai, sup ikan tahai, sambal asam, kari ayam dan sayur kobis tumis. Malam itu kami makan beramai-ramai dan berbual sehingga lewat malam. Semua keluarga suamiku bermalam di rumah ibunya di Sualai.

Armiza Nila
09.11.06

...bersambung

Thursday, November 02, 2006

Inilah keluarga kandung suamiku


inilah suasana hiba berbaur ria tatkala mau meninggalkan keluarga besar (kandung) suamiku di Kampung Sualai, Lawas

Armiza Nila
2 nov 2006

Hulubalangku


hulubalangku
kaulah pelindung mama
kaulah mutiara jiwa!

armiza nila
semariang batu
2 Nov 2006

Wednesday, November 01, 2006

Kepada Sang Suami

Salam hormat,

kepada sang suami di luar sana- fahamilah keadaan yang melanda isteri-isteri anda sekalian tika dia sedang bergelut mengandungkan anak-anak dari benih anda. Saat mengidam adalah period yang amat mencabar keimanan dan kesabaran segelintir wanita yang mengandung. Itulah yang dialami saya- bukan sekali dua malah kali ini yang ketiga keadaannya tetap serupa.

Apa saja yang masuk ke dalam mulut dan perut saya pasti akan terkeluar balik melalui mulut kerana mual yang teramat (morning sickness) yang teruk kata doktor. Sehinggakan kadang2 saya memaksa diri untuk tidak menyentuh apa2 makanan atau minuman buat seketika lantaran merajuk pada diri sendiri. Anehkan... saya paling tidak dapat menerima makanan berunsur protein seperti daging, ayam, ikan, susu, milo, minyak, bawang dan seangkatannya. Kekadang saya hanya bergantung kepada sayuran dan buah2 an saja termasuklah air kosong.

Entahlah berapa lama saya akan menghadapinya. Kandungan sudah mencecah tiga bulan, keadaan kesihatan saya tidak menentu seperti pasang surut air. Sedikit sebanyak rutin tugas saya di pejabat terjejas. Saya memohon ehsan boss yang mana prihatin dengan keadaan saya. Saya sebenarnya takut pekerjaan saya menurun gara-gara hamil. Namun apakan daya, itu saja kemampuan saya. Biarlah saya merangkak-rangkak untuk menyiapkan apa yang patut dan saya sentiasa sedar akan tanggungjawab saya.

Ketiadaan suami, saya memandu kenderaan sendiri ke pejabat dengan pening-pening kepala dan 'nyawa' yang mual. Sesekali saya berhenti di persimpangan jalan untuk muntah. Inilah dugaan yang maha hebat pernah saya alami semasa mengandung. Kekadang saya menangis sendirian. Namun segalanya sudah ditetapkan dan saya menerimanya seadanya walaupun dengan hati yang berat.

Sakit ini bukan nak mengada-ada tapi adalah buatan sang lelaki (suami)...kata teman lelaki sepejabat SAKIT BUATAN!

Armiza Nila
POLIKU
1 Nov 2006

Monday, October 30, 2006

Salam 'Idul Fitri Daripada Armiza Nila and Family

Waktu Asar, petang Ahad 6 Syawal, Armiza Nila sibuk di rumah bonda kerana ada 'open house' acara makan-makan nasi, mi goreng dan lauk pauk daging ayam, kambing, lembu dan ikan tahai berserta ulam-ulaman.

Dalam keriuhan orang ramai dan rakan2 Armiza Nila yang sudah pulang setelah kekenyangan, Armiza Nila terlihat kelibat Bang Sajali menyusuri jambatan panjang menuju ke rumah bonda. Miza lantas mengepung dari belakang. Tidak salah - YusufFansuri, Bang Sajali bersama Zainal Abidin, berjalan dikit-dikit meniti jambatan panjang ke rumah saya.

Kunjungan Asar itu, amat bermakna buat Armiza Nila dan keluarga. Biarpun beraya tanpa suami yang bertugas di sempadan demi mempertahankan negara, Armiza tetap gembira dengan kunjungan kerabat API. Yang lucunya mereka bertiga bergambar sakan macam lagak YB mengunjungi kawasan pedalaman...ada projek baru nak masuk agaknya. Dari depan jambatan sehingga ke beranda belakang rumah Armiza habis diambil gambar oleh mereka bertiga.

Armiza Nila ditemani Adib dan 'Irfan gembira menyambut kehadiran kerabat API. Yusuf Fansuri begitu mesra dengan anak-anak Armiza Nila....tanda2 awal menjadi suami dan ayah sudah nampak pada perlakuan Yusuf terhadap anak-anak..hehehe...jangan marah Suf.

Percakapan sekitar sastera dan aktiviti yang akan dijalankan oleh API. Walaupun Armiza Nila semacam 'darurat' kerana masih dalam 'mengidam' yang teruk, namun pergerakan penulisan tetap diteruskan atas tulang belakang kerabat API.

Kesempatan ini Armiza Nila-Maslina Mahbu, Mohamad Hanapiah Baki, Muhammad 'Irfan Musaiyar Mohamad Hanapiah dan Muhammad Adib Nifail Mohamad Hanapiah mengucapkan salam 'Idul Fitri buat kerabat API dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia.

Semoga kemenangan ini akan berterusan sehingga ke akhir hayat kita. Amin

Armiza Nila
Semariang Batu
7 Syawal 1427H, 30 Nov 2006

Sejarah Tercipta di Lawas

Salam,

sejak kembali dari Lawas, Armiza Nila belum berkesempatan mengupdate blog lantaran bebanan tugas yang melambak dan maha segera di kantor.

InsyaAllah, dalam sedikit masa lagi Armiza Nila akan mencoretkan catatan kenangan di Lawas buat tatapan di blog kesayangan ini.

Armiza Nila
30.11.06